Monday, January 28, 2013

28 hitam

Aku baru saja menyelesaikan film 5 days in war. Kau mungkin bertanya apa hubunganya film itu dengan isi surat yang kau baca iini. Ya, sama sekali tidak ada hubungannya. Film itu hanya sebagai spasi. Memisahkan jarak surat ku tadi--yang mungkin belum kau baca--dengan surat yang kini ada di tangan mu.

Kau tahu, sejak mata ku terbuka pagi tadi aku berpikir apa yang harus ku kata kan dalam surat ku hari ini. Entahlah, hari ini begitu spesial. Meskipun hari-hari di tanggal 28 yang juga spesial. Hari ini lebih dari itu. Sepanjang hari aku memikirkan kata apa yang harus ku lukis di kanvas biru ku ini. Kanvas lain yang ku sediakan khusus untuk melukiskan rasaku.

Aku suka malam. Ku putuskan untuk mengirimkan surat ku pada malam hari. Biar kau bisa lebih merasainya. Kulipat rapi dalam amplop putih lengkap dengan hati berwarna pink sebagai perekatnya. Kupikir, malam ini kita akan saling berbalas surat. Saling berbagi #optimis seperti biasanya. Atau paling tidak kau bisa mengrimkan emoticon smile di whatsapp ku setelah membacanya.

Tapi....
Kau pergi...
Hilang...
Tanpa ada kata...

Tidak kah kau lihat senyumku yang seharian ini begitu berbeda? Merekah.
Tidakkah kau merasakannya?

Sekelilingku biru...
Sebiru rasa ku
Dan kau menghilang
Menyisakan aku yang berdiri mematung dalam ruang biru memegang amplop putih dengan gambar hati di tengahnya. Tidak. Kini biru itu berganti hitam. Kemanakah kau?
Kumohon jangan biarkan pikiranku liar menerka.

Dalam surat ku itu, kutumpahkan resah akan waktu yang lamban. Tapi, tetap kututup dengan optimis. Sebenarnya aku masih menarik nafas panjang setelah menuliskan itu. Aku hanya ingin membuatmu tenang. Aku tidak ingin kau menghawatirkanku di sini.

Aku bisa apa, jika seperti ini.
Padang rumput yang aku ceritakan tadi, baru saja menghijau. Dan kau menghilang seketika pula rumput itu mengering.

Aku telah mencoba kuat. Dan kupikir, hari ini adalah hari yang akan menguatkanku. Aku benar-benar bisa berdiri tegak hari ini. Tapi, aku bisa apa, jika seperti ini. Belum juga berdiri tegak, kaki ini kembali kosong. Seperti hewan-hewan invertebrata yang ku bedah di laboratorium. Tak bertulang.

Hari ini spesial. 28.
Terlalu kah ekspektasi ku?

Atau, tombol otomatis itu kehabisan dayanya?
Hingga kau tak merasa apa-apa.

Kupikir, ekspektasiku lah yang keterlaluan.
Ya. Terlalu.

Itulah sebabnya terkadang aku tak ingin berharap.

28

Dear--kamu...
Sejujurnya aku canggung bermain kata setelah hari menenggelamkan ku begitu dalam. Aku bersalah. Aku tidak mengindahkan janjiku untuk selalu menuliskan surat untukmu. Aku sibuk menggores beberapa huruf di hatiku. I've wrote them like a tattoo. R.I.N.D.U.

Hei kamu yang sedang duduk di balik jendela. Mungkin dengan secarik kertas surat ini. Lihatlah ke luar sana. Hujan turun seolah ku berair mata. Pagi tadi desau angin meniupkan namamu. Menyadarkanku hari ini adalah hari ke-28 di Bulan Januari. Seperti biasa, angka itu selalu bisa mengantarkan energi lebih dari angka lainnya.

28...
Aku tersenyum menatap angka itu. Empat kotak berisi angka 28 telah kuberi tanda lingkaran merah sebelumnya. Dan kini saatnya sekali lagi ku lingkari angka itu. Lima sudah, 28 ku tandai. Satu kali lagi. Ya, sekali lagi. Setelah itu matamu dan matamu akan bertemu di 28. 2 hati kita menari melintasi angka 8. Tiada henti.

Cepatlah pulang...
Cepat kembali...
Jangan pergi lagi...
Aku tak henti mengantakan itu. Mungkin di sela isak tangisku. Meski ku tahu, tak mungkin kau seketika ada dihadapanku setelah mendengar itu. Aku tidak tau apakah tombol otomatis mu masih aktif. Jika ya. Sudah pasti beribu-ribu kali menyala dan berbunyi. Mungkin telah sedikit mengganggumu. Membuat tidurmu tak nyenyak. Hingga kau menemukanku sebagai tokoh utama atau sekedar figuran dalam drama mimpimu.

Ah... mengapa 28 terakhir itu terasa akan sangat lama.
Tapi, tenanglah... aku punya hati yang luas.. :) disana ada pohon yang rindang dengan bangku kayu tepat di bawahnya. Hijau rumput jadi permadani yang hangat untuk kakiku. Aku akan menunggu mu di sana. Membaca puisi-puisi mu, mewarnai gambar, atau mendalami pemikiran para filsuf. Suratmu akan ku simpan tepat di sebelahku. Ku letakkan dalam kaleng kue. Dan ku baca berulang kali. Suratmu adalah hal yang paling aku nanti. Tanpa itu, sekelilingku akan berubah dari hijau menjadi cokelat. Gersang.

1 × 28 = pertemuan
Satu kali lagi. 28 ku menjadi sepi. Ku harap 28 setelah itu, hujan turun tepat saat jari-jari kita berpelukan. Biarkan hujan menahan mu. Menjaga hangat yang kurindukan.

Bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti ke mana akan bermuara

Rindu ini...

Tuesday, January 15, 2013

Merindukanmu

Jika kau dengar hatiku
Berbisik memanggil namamu
Bayangmu seakan menjelma nyata
Walau jarak memisahkan

Di sini sendiri jauh darimu
Ku lewati malam sepi menghujam
Tanpamu kurasakan mati
Tak seperti saat kau disisi

Ku merindukanmu

Kupandang senja memerah
Menyimpan kisah tentang kau dan aku
Berharap semua kan berlalu
Hingga tiba waktu kan kutemukanmu

Di sini sendiri jauh darimu
Ku lewati malam sepi
Tanpamu kurasakan mati
Tanpamu tak ada gairah
Ku tulis namamu di dalam hatiku
Dan kau ada disetiap mimpiku

Ku merindukanmu

Sunday, January 13, 2013

Aku, kau, jarak dan waktu

Saat kau beranjak, melakukan perjalanan menuju persinggahan barumu di negeri daun maple, ku rasakan kehilangan yang begitu mendalam. Kita terpisah benua. Kita akan bertarung dengan jarak dan waktu. Aku mengucapkan "good night" untukmu di saat baru saja mataku terbuka. Begitu pun sebaliknya. Awalnya terasa aneh, tapi lama kelamaan sudah terbiasa. Beruntung, kau singgah di sebuah negeri yang maju. Akses internet bisa leluasa kau nikmati. Hingga jarak pun mampu ditaklukkan. Aku bersyukur perbedaan 12-13 jam tersebut membuat kita bisa berkomunikasi dengan nyaman. Saat aku beraktivitas, kau terlelap dipeluk malam. Begitupun sebaliknya. Kita bisa bertemu di sebuah celah antara istirahat dan aktivitas. Saat kau baru pulang dari aktivitas volunteering, sebelim makan malam, biasanya kau beristirahat di kamar. Kemudian menemuiku yang baru saja bangun pagi. Beberapa saat kemudian, kau sudah bersiap ingin tidur bertemu mimpi mu, akupunbtelah bersiap memulai aktivitas ku, ke kampus dan segala macamnya. Begitulah siklus kita selama 3 bulan itu. Meski terkadang terselip pertengkaran, aku tetap menikmatinya. Aku bersyukur masih bisa punya ruang yang efektif untuk menemui mu.

Sekarang, kau telah kembali ke pelukan ibu pertiwi. Aku senang. Karena jarakmu semakin dekat. Tapi, entah mengapa, ada rasa yang menyeruak seperti nya aku lebih senang jika kau di negeri maple itu saja. Seperti 3 bulan yang lalu. Sekarang, saat jarak mu sudah semakin dekat. Aku harus bertarung dengan waktu. Waktu kita hanya beda 1 jam. Aku bangun pagi, kamu juga bangun. Aku memulai aktivitasku dan tenggelam di dalamnya, kau pun demikian. Aku terlelap, kau pun demikian. Hingga celah untuk bertemu nyaris tidak ada.

Seperti ingin memberimu pilihan... kalau ingin muncul, muncullah
Jika hanya ingin sesekali muncul, mending sekalian menghilanglah...

Aku tersiksa...

Ibarat di beri pilihan,
Aku lebih memilih tidak ada
Dibanding setengah-setengah

Seperti anak kecil yang diperlihatkan gulali
Tapi hanya dijinkan mengecapnya
Satu dua kali

Tuesday, January 8, 2013

Maaf...

Kuharap kau tidak pernah bosan dengan kata itu ^^v
Sepertinya terlalu sering mengucapkan kata itu. Tapi sekali lagi semoga kali ini kau tak mengacuhkannya.

Aku tahu saat ini jantungmu berdetak lebih cepat, otakmu memutar kencang mencari-cari file memori, kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat.

Aku hanya ingin berkata...

"Maaf...atas kata yang tak pernah lagi terurai di atas kanvas ku"
"Maaf....belum bisa memenuhi janjiku untuk selalu menulis."

Sebelum pergi, kau pernah memberiku resep rindu. Ketika aku terserang syndrom rindu, tak peduli stadium berapapun itu menurutmu hanya satu penawarnya, menulislah. But, what I've done ? Kanvas-kanvas kubiarkan menangis karena jarang tersentuh. Lembaran-lembaran buku catatanku kering seperti dilanda kemarau. Kuakui, beberapa minggu pertama aku masih menjamah mereka. Namun, semakin kronis rindu ini semakin berat pula tanganku tergerak untuk sekedar menorehkan beberapa kata. Hingga pada klimaksnya, kau protes. Aku yakin kau kecewa.

Seorang guru di bangku SMP, yang pertama kali membuatku jatuh hati pada Biologi, berceramah di depan kelas di suatu siang. Beliau membahas tentang organ-organ manusia. Kemudian bertanya pada kami siswanya.
"Manusia memiliki berapa ginjal?"
"duuuuaaa...."
kami pun serentak menjawab seoalah sudah tersave di luar kepala kami. Ibu guru, yang hingga kini menjadi sosok guru inspiratif bagiku tersenyum puas saat itu.
"Kalau kita [manusia], memiliki berapa hati?"
"Saatuuuu." Sekali lagi koor indah memecah kelas.
Tapi, ada yang berbeda dengan senyum ibu guru. Tak sepuas tadi.
"Jadi, anak-anakku, kita, manusia, memiliki dua hati.... hati konkrit dan hati abstrak. Jagalah hati abstrakmu, agar tak merusak hati konkritmu."
Begitulah beliau bernasehat.

Aku tidak tahu sejauh mana sindrome rindu itu mengakar. Hingga melumpuhkan pikiranku. Memutarbalikkan akal sehatku. Hatiku merindu. Sejatinya pikiranku pun harus merindu. Seharusnya otakku memberi respon positif terhadap apa yang terjadi pada "hati abstrak" ku yang efeknya telah sampai ke "hati konkrit" ku. Salah satu cara yang mungkin mampu menawarkan sedikit keresahan yang ada adalah dengan mengirimkan impuls ke otot-otot jariku untuk merenda huruf-huruf yang rindu. Bukan dengan berdiam dilarung kerinduan.

"Kalau rindu, menulis meki..."
Begitu pesan mu selalu mendengung di telingaku.
Tapi, semakin aku ingin menulis semakin keras kelenjar air mata bekerja.
Hingga menulis menjadi sesuatu yang mengerikan bagiku.

Rindu itu sejatinya manis. Semanis cokelat yang setiap malam ku lahap habis. Rindu mampu menguatkan, membuat seseorang berjuang mengerahkan seluruh kekuatan, melakukan yang terbaik. Tapi, entah sejak kapan rindu bertransformasi merupai belati. Menusuk dan menyayat hati dan pikiran.

Dalam sebuah perenungan panjang, aku tersadar bahwa selama beberapa waktu terakhir ini hati dan pikiranku terkendali sesuatu yang mengatasnamakan rindu. Aku terseret dan dihempaskan di sebuah pulau yang sempat kujuluki real paradise namun sejatinya hanya fatamorgana semata. Seharusnya tak kubiarkan diriku terseret arus dan terhempas di pulau itu. Aku harus kembali ke lautan rasa dan menyelami rindu yang sejatinya adalah sebuah palung terdalam yang pernah ada. Dan aku yakin pasti bisa menemukan dan menyusuri palung itu hingga kutemukan rindu yang sebenar-benarnya rindu .

#optimism

Sunday, December 23, 2012

Please Forgive Me

It still feels like our first night together
Feels like the first kiss
It's getting better baby
No one can better this
Still holding on
You're still the one

First time our eyes met
Same feeling I get
Only feels much stronger
I want to love you longer
Do you still turn the fire on?

So if you're feeling lonely, don't
You're the only one I'll ever want
I only want to make it good
So if I love you, a little more than I should

Please forgive me, I know not what I do
Please forgive me, I can't stop loving you
Don't deny me, this pain I'm going through
Please forgive me, if I need you like I do
Please believe me, every word I say is true
Please forgive me, I can't stop loving you

Still feels like our best times are together
Feels like the first touch
We're still getting closer baby
Can't get closer enough
Still holding on
You're still number one

I remember the smell of your skin
I remember everything
I remember all your moves
I remember you yeah
I remember the nights, you know I still do

So if you're feeling lonely, don't
You're the only one I'll ever want
I only want to make it good
So if I love you a little more than I should

Please forgive me, I know not what I do
Please forgive me, I can't stop loving you
Don't deny me, this pain I'm going through
Please forgive me, if I need you like I do
Please believe me, every word I say is true
Please forgive me, I can't stop loving you

The one thing I'm sure of
Is the way we make love
The one thing I depend on
Is for us to stay strong
With every word and every breath I'm praying
That's why I'm saying,

Please forgive me, I know not what I do
Please forgive me, I can't stop loving you
Don't deny me, this pain I'm going through
Please forgive me, if I need you like I do
Babe believe it, every word I say is true
Please forgive me, if I can't stop loving you
No, believe me, I don't know what I do
Please forgive me, I can't stop loving you

I can't stop, loving you

(*song by: Bryan Adams)

Mengenal kecewa [mu]

"Kecewa..."
Kini
Aku mengenalnya